Lombok Tengah | Lombok Fokus – Pihak SMAN 2 Praya menegaskan bahwa siswanya tidak terlibat dalam aksi tawuran pelajar yang sempat viral di media sosial pada Selasa (14/10). Video berdurasi 1 menit 20 detik yang pertama kali diunggah oleh akun Facebook Paul Fadila memperlihatkan sekelompok remaja terlibat keributan di sekitar Bendungan Batujai, Kecamatan Praya Barat.
Unggahan tersebut langsung ramai diperbincangkan publik setelah warga menemukan gesper bertuliskan SMAN 2 Praya di lokasi kejadian. Temuan itu memicu dugaan bahwa siswa sekolah unggulan tersebut ikut dalam aksi tawuran, sehingga nama sekolah kembali menjadi sorotan warganet.
Salah satu pengguna media sosial, Andyra Afipa, mengomentari pentingnya peran orang tua dalam pembentukan karakter anak.
“Awasi dan kawal terus perkembangan kepribadian anak. Kalau di rumah sudah dididik dengan baik dan penuh kasih sayang, di luar mereka bisa menjaga sikap. Jangan semua urusan diserahkan ke sekolah,” tulisnya.
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala SMAN 2 Praya, H. Mustanadi, menyampaikan bahwa pihak sekolah langsung mengambil langkah cepat dengan memanggil sejumlah siswa yang disebut berada di lokasi kejadian, bersama orang tua mereka.
“Kami terus berupaya membentuk kedisiplinan dan karakter siswa. Kalau nanti terbukti ada keterlibatan, maka akan diberikan sanksi sesuai dengan tata tertib sekolah,” ujar Mustanadi, Rabu (15/10).
Ia menegaskan, meskipun kejadian tersebut berlangsung di luar jam sekolah, pihaknya tetap merasa bertanggung jawab karena nama lembaga pendidikan ikut terseret. Tim Bimbingan Konseling (BK) sekolah langsung turun tangan untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut.
Guru BK SMAN 2 Praya, Bu Danti, menyebut hasil klarifikasi menunjukkan bahwa tidak ada siswa SMAN 2 Praya yang terlibat dalam aksi tawuran. Mereka hanya berada di lokasi saat kejadian tanpa ikut dalam keributan.
“Dari pengakuan siswa yang kami panggil bersama orang tuanya, mereka hanya ikut kumpul dan tidak ada yang melakukan pemukulan. Tiga siswa yang dipanggil hanya dijadikan saksi untuk memperjelas situasi,” jelas Bu Danti.
Ia menambahkan, pemanggilan orang tua dilakukan sebagai langkah pencegahan dan pembinaan bersama agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.
“Kita ingin mengingatkan agar orang tua ikut berperan aktif mengawasi anak-anak di luar jam sekolah. Pembinaan karakter tidak bisa hanya dilakukan oleh guru, tapi juga dimulai dari rumah,” tegasnya.
Pihak sekolah berharap masyarakat tidak terburu-buru menilai sebelum fakta sebenarnya terungkap. SMAN 2 Praya berkomitmen menjaga nama baik lembaga dan terus memperkuat pendidikan karakter bagi seluruh siswanya.
